Membumikan Budaya Positif di Sekolah

Para praktisi dunia pendidikan di Indonesia, salam hormat  dan ayo terus bergerak memajukan pendidikan di Indonesia.

Budaya positif sekolah  berisi kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasaan positif ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk pada diri anak. Contoh kecil dan sederhana membiasakan budaya positif di sekolah adalah kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan memungut sampah yang ada di lingkungan sekolah. Kebiasaan ini sangatlah sederhana tapi jika dilakukan secara terus menerus dan konsisten pasti akan menjadi budaya positif yang pasti akan sangat berdampak pada lingkungan sekolah. Sekolah menjadi bersih dan asri dan nyaman sebagai tempat untuk belajar.

Budaya positif berawal dari disiplin positif yang dibiasakan kepada siswa dan pasti kebiasaan ini lahir dari dalam diri siswa sehingga melakukan proses disiplin positif tanpa ada keterpaksaan dan tekanan apalagi hukuman. Makna disiplin positif menurut Ki hadjar Dewantara (KHD), seperti yang tertuang dalam statemen beliau “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. Kata kuncinya disiplin positif lahir dari self discipline dan harus lahir dalam suasana yng merdeka. Disiplin positif juga harus bisa menghargai hak orang lain.

Dalam membumikan budaya positif, ada 5 posisi Kontrol yang bisa diperankan oleh seorang guru, dan untuk membiasakan dan membangun budaya positif posisi control sebagai Manajer menjadi penting untuk diperankan. Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) menyebutkan ada 5 posisi Kontrol yang bida diperankan oleh guru adalah: 1. Penghukum: Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun Verbal. 2. Pembuat Orang Merasa Bersalah: pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut, 3. Teman: Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi, 4 Monitor/Pemantau: Memonitor berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi, 5. Manajer: Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi mentor di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Terakhir dalam mengimplementasikan budaya positif disekolah perlu dilakukan segitiga restitusi. Restitusi bisa dimaknai sebagai proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Segitiga Restitusi dimulai dari 1. Menstabilkan identitas, 2. Validasi

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *